Kenapa Teleskop Canggih Tidak Bisa Menemukan Keberadaan Tuhan
“Teleskop canggih tidak bisa melihat Tuhan. Pelajari alasan logis di balik konsep pencipta dan batas kemampuan panca indra manusia.”
Banyak orang menatap langit malam lalu bertanya tentang keberadaan Tuhan. Sebagian orang bahkan berharap lensa teleskop luar angkasa bisa menangkap sosok pencipta alam semesta. Teleskop James Webb sanggup memotret galaksi yang berjarak miliaran tahun cahaya. Namun, alat secanggih apa pun tetap tidak akan pernah menemukan wujud Tuhan di balik bintang.
Aku mengajak kamu melihat batasan alat buatan manusia. Teleskop bekerja dengan cara menangkap partikel cahaya, radiasi inframerah, dan gelombang elektromagnetik. Semua hal yang ditangkap teleskop masuk dalam kategori materi fisik. Ruang dan waktu membatasi materi tersebut. Kamu menggunakan alat fisik untuk mengukur benda fisik. Cara ini tepat untuk meneliti planet, komet, atau lubang hitam. Namun, cara ini gagal total saat kamu ingin mencari entitas yang menciptakan hukum fisika itu sendiri.
Tradisi filsafat Hindu mengenal konsep Acintya. Konsep ini menjelaskan bahwa Tuhan berada di luar jangkauan pikiran, imajinasi, dan panca indra manusia. Filosofi Jawa juga memiliki istilah tan keno kinoyong opo. Istilah ini merujuk pada realitas mutlak yang tidak bisa digambarkan oleh kata maupun pikiran. Manusia memiliki keterbatasan biologis. Otak kamu bekerja dengan batas tertentu. Kamu tidak bisa memaksakan alat yang terbatas untuk mengukur realitas yang tanpa batas.
Kamu bisa memahami konsep ini lewat analogi permainan komputer seperti Minecraft. Saat kamu memainkan karakter di dalam game, kamu menjelajahi dunia balok yang sangat luas. Karakter game hanya bisa berinteraksi dengan pohon, air, dan tanah di dalam server. Karakter game tidak akan pernah bisa melihat sosok pembuat game di dalam layar. Pembuat game hidup di luar kode pemrograman. Pembuat game tidak tersusun dari balok pixel. Pembuat game menyusun seluruh sistem permainan dari luar.
Tuhan berada pada posisi yang serupa dengan pembuat sistem tersebut. Tuhan merancang gravitasi, atom, dan galaksi. Tuhan tidak tunduk pada ruang dan waktu ciptaan-Nya. Mencari Tuhan menggunakan teleskop sama kelirunya dengan karakter game yang mencari programmer di balik pohon digital. Kamu mencari sang pencipta di tempat yang salah.
Sains modern membuktikan bahwa semesta memiliki titik awal sekitar 13,8 miliar tahun lalu lewat peristiwa Big Bang. Titik awal ini menandai lahirnya materi, ruang, dan waktu. Entitas yang memicu peristiwa tersebut harus berada di luar materi, ruang, dan waktu. Oleh sebab itu, sains empiris tidak dirancang untuk membuktikan atau membantah eksistensi Tuhan.
Kamu perlu mengubah caramu memandang dunia. Keberadaan perancang terlihat dari keteraturan hukum alam yang berjalan sangat presisi. Gravitasi menarik benda dengan kekuatan yang tepat. Bumi mengorbit matahari pada jarak yang pas untuk mendukung kehidupan. Keteraturan ini memberi tanda yang nyata bagi akal sehat kamu.
Fokuskan energimu pada hal yang membawa dampak langsung bagi hidupmu. Jangan habiskan waktu memperdebatkan wujud fisik yang memang mustahil kamu lihat. Sadari bahwa keteraturan semesta mengelilingi kamu setiap hari. Gunakan akal sehat kamu untuk belajar hal baru, rawat lingkungan hidupmu, dan perlakukan sesama manusia dengan baik. Menjalani hidup penuh kesadaran jauh lebih berguna daripada sibuk mencari wujud materi yang berada di luar batas fisik.