Sore itu Putu melihat ayahnya sedang menata sesajen di teras rumah. Di atas tatanan daun janur, terlihat minuman kaleng impor, coklat batangan terkenal, dan beberapa potong roti manis mahal. Putu meletakkan ponselnya lalu duduk di dekat ayahnya.
Bapak, kenapa banten sekarang isinya serba mewah. Dulu waktu kecil, kita cuma melihat buah pisang, apel lokal, dan jajan pasar. Sekarang sesajen kepada Tuhan kok pake minuman kaleng.
Ayahnya tersenyum kecil sambil merapikan rangkaian janur.
Zaman berubah, Putu. Banyak orang merasa ingin memberi barang terbaik yang mereka punya ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Kalau mereka sanggup beli minuman kaleng atau coklat mahal, mereka persembahkan itu.
Tapi apa Tuhan minta barang semahal itu, Pak. Bukannya dalam Bhagavad Gita ada aturan jelas soal persembahan.
Coba kamu sebutkan ayat yang pernah kamu pelajari itu.
Dalam Bhagavad Gita Bab IX Sloka 26, yang berbunyi 'pattram puspam phalam toyam yo me bhaktya prayaccati tad aham bhakty-upahrtam asnami prayatatmanah'. Artinya "Siapa pun yang dengan cinta dan pengabdian mempersembahkan kepada-Ku sehelai daun, sekuntum bunga, buah, atau air, persembahan yang didasari oleh cinta dan keluar dari lubuk hati yang suci itu, Aku terima". Kitab suci tidak pernah minta banten serba impor atau mahal. Tuhan hanya melihat ketulusan hati kita, bukan harga barang belanjaan di kasir swalayan.
Ayah Putu mengangguk perlahan.
Kamu benar soal sloka itu. Inti persembahan memang ketulusan hati. Unsur utama persembahan tetap bunga, daun, buah, air, dan dupa. Makanan lain sifatnya pelengkap. Tapi kamu perlu ingat satu hal penting lagi soal makanan lungsuran.
Maksud Bapak tentang prasadam.
Tepat sekali. Setelah selesai sembahyang, semua makanan di dalam sesajen kita santap bersama keluarga. Makanan itu menjadi suci. Kita pantang menghaturkan makanan yang rusak atau membawa pengaruh buruk.
Putu mulai mengerti arah pikiran ayahnya.
Artinya kita tidak boleh mempersembahkan hal yang memicu energi negatif, kan Pak.
Benar. Hindu mengenal sifat satwam, rajas, dan tamas. Kita wajib mengutamakan unsur satwam yang membawa ketenangan dan kemurnian pikiran. Minuman keras atau makanan basi jelas terlarang karena bersifat rajas dan tamas. Minuman kaleng manis atau coklat masih masuk kategori makanan bersih yang siap konsumsi, asalkan kamu membelinya dari rezeki halal dan tidak memaksakan diri demi pamer gengsi di media sosial.
Jadi intinya kembali ke niat dan kemampuan kita masing-masing ya, Pak.
Tepat. Jangan sampai kamu berutang demi membeli barang mahal untuk sesajen. Tuhan tidak menilai gengsi kita.